Menumbuhkan Kesadaran Perguruan Tinggi Sebagai Wadah dan Stimulator Riset

Perguruan tinggi adalah sebuah wadah yang turut menentukan perkembangan peradaban dunia terutama dibidang sains dan teknologi. Peran serta perguruan tinggi telah terbukti sejak dahulu dengan banyaknya perguruan tinggi yang melahirkan para ilmuwan yang berhasil mengubah dunia.

Stephen Hawking, seorang ahli fisika Universitas Oxford yang berhasil menciptakan teori kosmologi, teori gravitasi kuantum, teori radiasi dan lainnya. Serangkaian penemuan tersebut ditempuh dengan kegiatan riset demi riset yang berkepanjangan tanpa mengenal lelah sampai penemuan itu mampu menciptakan perubahan dahsyat di muka bumi. Aktivitas riset yang dilakukan tentu tidak lepas dari dukungan dan peran serta perguruan tinggi yang saat itu menjadi tempat Stephen Hawking menimba ilmu.

Bukan hanya secara global, bahkan Indonesia juga melahirkan banyak ilmuwan yang berhasil mengubah kehidupan masyarakat baik secara nasional maupun internasional. Salah satunya adalah Dr. Prof Khairul Anwar, penemu jaringan 4G yang merupakan alumni sarjana teknik elektro ITB. Beliau juga lulusan magister serta doktor dari Nara Institute of Science and Technology, NAIST. Saat ini, Khairul adalah pemilik paten teknologi broadband yang menjadi standard internasional ITU, baik untuk sistem teresterial (di bumi) maupun satelit (di luar angkasa). Dalam menjalani proses riset yang dilakukan untuk menciptakan jaringan tersebut tentu tidak lepas dari dukungan perguruan tinggi yang disambanginya semasa melaksanakan riset tersebut.

Berdasarkan paparan sejarah singkat para ilmuwan tersebut, dapat dikatakan bahwa perguruan tinggi memiliki peranan penting dalam menciptakan budaya riset baik diantara mahasiswa maupun dosen.

Kehadiran perguruan tinggi ditengah-tengah masyarakat mempunyai tujuan menyalurkan pengetahuan kepada seluruh generasi penerus. Dalam hal ini, semua mahasiswa dituntut mempelajari sejumlah teori dan konsep-konsep terkait dengan bidang yang dipilihnya.

Sementara itu, mahasiswa tidak cukup hanya memahami segudang teori dan konsep, tetapi harus mampu mengemas teori serta konsep tersebut ke dalam kehidupan nyata sehingga ilmu yang didapatkan dapat berguna bagi kemaslahatan manusia. Pengemasan antara konsep dengan kehidupan nyata tentu membutuhkan proses dan proses ini biasa disebut dengan riset.

Melakukan riset adalah kewajiban yang harus dilalui semua mahasiswa yang akan menyelesaikan studinya. Jika mahasiswa menjalankan riset dengan sungguh-sungguh, maka baik sekarang maupun di masa depan, hasil riset tersebut akan memberikan manfaat bagi yang menggunakannya. Dalam hal ini, peran perguruan tinggi tentu turut menentukan keberhasilan riset yang dikerjakan. Ketersediaan prosedur yang jelas, aturan yang tegas, ketersediaan dosen yang expert dibidang riset, fasilitas yang memadai dan lainnya dapat menciptakan sebuah riset yang sesuai dengan harapan.

Selanjutnya, selain mahasiswa, dosen juga mempunyai kewajiban dalam melakukan riset. Di Indonesia, setiap dosen wajib melakukan riset minimal 2 kali dalam setahun. Aturan mengenai kewajiban ini telah memiliki aspek legalitas yang cukup kuat sehingga dosen yang lalai melakukan
kewajibannya akan diberikan sejumlah sanksi sesuai regulasi.

Aktivitas riset di kalangan para dosen tentu memiliki tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan riset yang dilakukan oleh mahasiswa. Dalam hal ini, perguruan tinggi lagi-lagi harus memainkan perannya sebagai wadah yang harus memberikan dukungan kepada pelaksana riset. Baik civitas, pimpinan, regulasi, dan lainnya harus mendorong dengan sebaik-baiknya untuk mewujudkan sebuah riset yang bermanfaat serta tepat guna.

Selain sebagai wadah, perguruan tinggi juga dituntut untuk mampu menstimulasi mahasiswa dan dosen agar memiliki minat yang kuat dalam melakukan riset yang baik dan bukan asal-asalan. Selain harus memperhatikan aspek kuantitas, perguruan tinggi juga harus mengawal kualitas atas riset yang sedang dijalankan. Karena ketika riset dilakukan asal-asalan maka hasilnya tidak akan dapat dimanfaatkan oleh kalangan yang membutuhkannya. Sementara tuntutan dunia saat ini adalah menciptakan peradaban yang semakin efisien dengan cara yang praktis. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika perguruan tinggi lalai dalam menyadari tugas penting ini.

Dimasa depan, impian untuk melahirkan periset-periset hebat hanyalah omong kosong apabila sejak dini tidak dimulai. Maka sudah saatnya bagi semua perguruan tinggi menjalankan peran dengan sebaik-baiknya sebagai pelaksana Tri Dharma yang salah satunya adalah stimulator aktivitas riset untuk masa depan (future), dimana harapan melahirkan ilmuwan-ilmuwan hebat yang mampu mengubah dunia bukanlah sebuah keniscayaan. | Buletin STIKes MNI Online | Edisi 02/0320 | All Rights Reserved | Editor HELB

Profil penulis:
Ns. Ismuntania Siregar., S.Kep., M.Kep


Riwayat Pendidikan :
1. SDN 142472 Tapanulis Selatan (1996-2002)
2. SMPN 07 Padang Sidimpuan (2002-2005)
3. SMAN 06 Padang Sidimpuan (2005-2008)
4. Program Studi S1 Keperawatan INKes Sumatera Utara (2008-2012)
5. Program Profesi Ners INKes Sumatera Utara (2012-2013)
6. Program Studi Magister Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara dengan konsentrasi Manajemen Keperawatan (2016-2019)

Riwayat Pekerjaan :
1. Dosen pengajar di Aakademi Kebidanan STIKes Medika Nurul Islam cabang Meureudu tahun 2013.

2. 2014-2015 Sekretaris Laboratorium Keperawatan STIKes MNI,

3. 2016 Kepala Kemahasiswaan Bidang Keperawatan STIKes MNI,

4. Dosen Tetap di STIKes Medika Nurul Islam Sigli tahun 2014 sampai sekarang :

5. 2019 s/d sekarang Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) STIKes MNI